Kabar Berita

Berita dan Lowongan Kerja Update

Apakah Anda Tipe Orangtua “Hyperparenting”?.

KOMPAS.com — Coba perhatikan, apakah buah hati Anda mengikuti les ini-itu sehabis sekolah hingga menjelang malam? Atau, apakah kegiatannya sangat padat dari Senin sampai Sabtu? Bila itu yang dialami, boleh jadi Anda telah “terjebak” dalam jeratan hyperparenting.

Hyperparenting sendiri merupakan upaya-upaya yang dilakukan orangtua yang dinilai baik untuk anak, tetapi tidak memerhatikan kebutuhan dan kemampuan anak itu sendiri. Hal ini biasanya terjadi karena dilatarbelakangi kekhawatiran orangtua akan masa depan anak.

Ada beberapa ciri orangtua “hyperparenting”
– Menilai keberhasilan anak semata-mata dari prestasi akademik atau kognitif, entah melalui rapor atau prestasi yang telah diraihnya.

– Selalu merasa khawatir atau cemas berlebihan akan apa yang dihadapi anak sekarang dan di masa depan.

– Selalu membandingkan sang buah hati dengan anak lain.

– Memanjakan anak, memenuhi semua tuntutan dan permintaan anak.

– Kecewa bila mendapati anak gagal mencapai prestasi atau kemampuan tertentu yang diharapkan orangtua.

– Selalu merasa kurang terhadap apa yang dilakukan pada anak tanpa memedulikan kemampuan anak.

– Memaksakan anak untuk melakukan kegiatan yang menurut orangtua dinilai baik dan berdampak positif pada anak. Apakah anak sudah siap atau mau/tidak ikut kegiatan tersebut menjadi urusan nomor dua.

– Selalu menekan anak dan tersinggung bila ada yang mengomentari atau mengkritik anaknya.

– Menyalahkan pihak sekolah atau guru bila anaknya tak berhasil mencapai prestasi yang baik.

Aneka dampak “hyperparenting” per usia:

Bayi:
– Keinginan untuk menyusu atau makan berkurang. Bila ini terus berlanjut, dapat memengaruhi berat badannya yang akan menurun.

– Tidur gelisah, terbangun di malam hari sambil menangis atau rewel.

– Mudah rewel atau menangis berkepanjangan.

– Merasa tak nyaman, mengisap jempol.

Balita:
– Cenderung menjadi pendiam dan pemurung.

– Bila diajak bicara, responsnya kurang baik. Menghindari kontak mata atau memalingkan wajah.

– Sensitif, cenderung agresif atau mudah marah. Mengekspresikan sikap dengan cara negatif, seperti memukul, menggigit, atau menendang.

– Merasa letih atau lelah. Gelisah atau cemas berlebihan.

– Enggan melakukan aktivitas yang biasa dilakukan, misalnya bermain.

– Kehilangan nafsu makan.

– Mengompol, menggigit-gigit jari, menarik-narik rambut.

Usia sekolah:
– Sulit berkonsentrasi, sering mengeluh ketika belajar, pelupa.

– Masalah nafsu makan. Sulit makan atau bahkan banyak makan.

– Tidur tak nyenyak, mengigau.

– Tak mau keluar kamar, menyendiri, murung.

– Mogok/tak mau sekolah atau malas dan tak mau ikut les.

– Prestasi akademik menurun, nilainya malah jadi jelek.

– Menjadi lebih suka bermain keluar rumah bersama teman.

– Lebih cepat lelah, kurang bersemangat, cepat sakit.

January 30, 2010 - Posted by | Uncategorized |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: